Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi

Authors

  • Pirminus Pirminus Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak
  • Yanto Sandy Tjang Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak
  • Amadi Amadi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak
  • Hemma Gregorius Tinenti Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak
  • Felisitas Yuswanto Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

DOI:

https://doi.org/10.61132/jbpakk.v3i4.1673

Keywords:

Catholic Faith, Customary Ritual, Inculturation, Nosu Minu Podi, Village Cross

Abstract

This study explores the Village Cross as a symbol of inculturation, integrating Catholic faith with the Nosu Minu Podi ritual in Dusun Perintis, Balai Sebut Village, Sanggau Regency. Nosu Minu Podi, a post-harvest rice ritual, originally centered on the ancestral statue (Pantak) as the main focus of worship. The introduction of Catholicism led to a symbolic transformation, replacing the Pantak with the Village Cross while maintaining ancestral values and harmonizing them with Catholic practices. This research uses a qualitative approach combining ethnography and contextual theology. Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews, and field documentation. Findings reveal that the Village Cross serves dual functions: as a religious symbol affirming God’s presence and spiritual protection, and as a marker of social and cultural identity. This transformation strengthens community solidarity, preserves traditional practices, and provides a medium for faith formation among youth. The study highlights that inculturation enables the integration of local traditions with religious teachings, creating space for contextual, inclusive, and practical pastoral approaches. It contributes to scholarly understanding of the interplay between religion, culture, and community identity, emphasizing the enduring relevance of local wisdom in contemporary religious practice.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aprilia, S. (2025). Teologi ekologi berbasis nilai budaya Huma Betang dalam penghayatan iman dan cinta lingkungan bagi kaum muda Katolik. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik, 11(2), 105–115. https://doi.org/10.58374/sepakat.v11i2.444

Ariani, C. (1993). Pantak dalam hubungannya dengan kepercayaan dan kehidupan masyarakat Dayak Ribun. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

Bevans, S. B. (2002). Models of contextual theology. Orbis Books.

Hardiansyah, G., & Roslinda, E. (2024). Kearifan lokal dalam kegiatan ladang berpindah Suku Dayak UUD Danum Desa Meroboi, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang. Jurnal Hutan Lestari, 12(2), 507–516. https://doi.org/10.26418/jhl.v12i2.57601

Martasudjita, E. (2021). Teologi inkulturasi: Perayaan Injil Yesus Kristus di bumi Indonesia. Kanisius.

Martasudjita, E. P. D. (2010). Proses inkulturasi liturgi di Indonesia. Studia Philosophica et Theologica, 10(1), 39–60. https://doi.org/10.35312/spet.v10i1.92

Osin, Y. (2017). Pelaksanaan adat Bogawai Nosu Minu Podi pada masyarakat Dayak Jangkang Dusun Pisang Desa Pisang Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau. Jurnal Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, 5(3).

Pangerti, M. A. (2022). Imajinasi warga jemaat di Pos Pelayanan & Kesaksian (PosPelKes) Kharisma Mundun Kalimantan Barat tentang simbol salib (Studi agama dan kebudayaan Clifford Geertz) (Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana).

Pasalima, P., & Firmanto, A. D. (2020). Perkembangan teologi dan makna pantak dalam adat istiadat masyarakat Dayak Kanayatn. The Messengers: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 1(2), 161–175.

Praptantya, D. B., Darmawan, D. R., Dewantara, J. A., Efriani, E., & Yuliono, A. (2022). Akseptasi modernitas beragama orang Dayak di Kampung Nyarumkop. Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 6(2), 336–351. https://doi.org/10.22219/satwika.v6i2.22165

Sabudin, N. (2025). Pendekatan budaya dan penginjilan dalam mengubah keterbelakangan Suku Dayak Kanayatn Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Damai, 2(4), 43–52. https://doi.org/10.61132/damai.v2i4.872

Sari, M. L. (2018). Simbol salib dalam agama Kristen. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama, 14(2), 155–168. https://doi.org/10.14421/rejusta.2018.1402-01

Simatupang, E. S. (2023). Keterlibatan umat beriman dalam karya misi Gereja lokal berdasarkan model teologi kontekstual Stephen B. Bevans. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katolik, 3(2), 200–218. https://doi.org/10.52110/jppak.v3i2.93

Singkil, E. N., Bahari, Y., & Chalimi, I. R. (2021). Tradisi adat Nosu Minu Podi pada Dayak Pangkodant di Desa Lape Kecamatan Kapuas. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 10(10), 1–8. https://doi.org/10.26418/jppk.v10i10.49920

Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif (untuk penelitian yang bersifat eksploratif, interpretatif, interaktif, dan konstruktif). Alfabeta.

Usop, L. S. (2020). Peran kearifan lokal masyarakat Dayak Ngaju untuk melestarikan pahewan (hutan suci) di Kalimantan Tengah. ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 1(1), 89–95. https://doi.org/10.37304/enggang.v1i1.2465

Van Hulten, H. J. (1992). Hidupku di antara suku Dayak. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Downloads

Published

2025-12-22

How to Cite

Pirminus Pirminus, Tjang, Y. S., Amadi Amadi, Hemma Gregorius Tinenti, & Felisitas Yuswanto. (2025). Salib Kampung sebagai Simbol Inkulturasi: Integrasi Keimanan Katolik dan Ritual Adat Nosu Minu Podi. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen Dan Katolik, 3(4), 01–10. https://doi.org/10.61132/jbpakk.v3i4.1673

Similar Articles

1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.